..:: SELAMAT DATANG DI BLOG BIOSKOP TRANSPARANT ! Anda dapat Mendownload Film, Membaca Cerita, Belajar by Tutorial, Semoga Menyenangkan ::..

Menu Utama

Tampilkan postingan dengan label Cerpen Bobo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Bobo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Cerpen Bobo: Pangeran Bertopeng

Cerita Bobo - Cerpen Bobo - Pangeran Bertopeng
Di sebuah desa, hiduplah tiga pemuda kakak beradik. Rommy, Edward dan Albert. Edward dan Albert sangat tampan dan gagah. Sangat berbeda dengan kakak sulung mereka yang berwajah seram. Kedua pemuda ini sering mengejek kakak mereka.

Suatu hari, Rommy tidak tahan lagi mendengar ejekan-ejekan itu. Ia mendatangi ibunya dan mencurahkan kesedihannya,

"Bunda, mengapa wajahku tak setampan kedua adikku? Aku tak tahan melihat orang-orang yang ketakutan saat melihat wajahku..."

"Anakku, Bunda juga memikirkan keadaanmu! Bunda punya peninggalan topeng sakti dari kakekmu… Jika kau memakainya, kau akan tampak gagah dan tampak. Bahkan lebih dari kedua adikmu. Orang-orang tidak akan takut dan mengejekmu lagi. Asal, kau jangan menjadi sombong," ujar si ibu.

Sejak saat itu, Rommy selalu mengenakan topeng peninggalan kakeknya. Kini tak ada lagi orang yang takut jika melihat wajahnya. Juga tak ada yang mengejeknya. Namun, Edward dan Albert tambah membencinya. Sebab Rommy semakin disayangi orang banyak karena ia suka menolong.

Sementara itu, Raja Istana Biru Langit sedang mencari calon suami untuk Putri Rachel. Raja Istana Biru Langit sudah sangat tua. Ia ingin putrinya segera menikah dan menggantikan kedudukannya. Ia lalu mengadakan pesta besar di istananya. Semua pemuda gagah dan pandai boleh datang ke pesta itu. Edward dan Albert sangat gembira mendengar berita itu.

"Ayah, Bunda, kami akan mengikuti pesta di Istana Biru Langit. Kemampuan perang dan ilmu pengetahuan kami sangat tinggi. Tentu salah satu dari kami bisa lolos menjadi calon suami Putri Rachel," ucap Edward sombong.

"Kami akan membuat Ayah Bunda bangga karena kita akan menjadi anggota kerajaan..." tambah Albert.

"Dan Rommy, apakah kau tidak tertarik mengikuti pesta ini?" tanya sang Bunda.

"Rasanya aku tidak mungkin mengikuti pesta ini. Biarlah aku menonton saja. Semoga Edward dan Albert bisa menang," jawab Rommy merendah.

Pesta pertandingan akhirnya tiba juga. Banyak pangeran dari berbagai negeri mengikuti acara tersebut. Juga para pemuda yang tampan, pandai berperang dan berilmu. Acara dimulai dengan ujian ilmu pengetahuan. Lalu ujian keahlian berperang. Banyak calon mulai berguguran. Yang tersisa hanya beberapa orang, termasuk Edward dan Albert. Ujian terakhir adalah mengalahkan singa kelaparan di arena.

Serangan singa yang kelaparan itu ternyata amat ganas. Namun aneh. Lawan yang kalah ditinggalkannya begitu saja. Tidak digigit dan dilukai. Albert termasuk pemuda yang gagal mengalahkan singa ini. Kini tinggal Edward sendiri yang masih bertahan.

Edward bertarung dengan sengit. Singa yang telah kelelahan ini tidak lagi bisa melawan selincah tadi. Tentu saja Edward beruntung. Ia dapat memojokkan singa itu.

"Hahaha… kuhabisi kau!" Teriak Edward sambil menghunuskan pedangnya ke arah tubuh si singa.

Singa itu mengelak. Namun ia meraung karena terluka sedikit. Edward semakin pongah dan menyerang kembali. Ketika si singa akan ditusuk, tiba-tiba..."Edward, cukup! Jangan sakiti lagi singa yang baik itu..." teriak Rommy sambil meloncat dari kerumunan orang banyak.

"Hei, kau tak suka aku memenangkan pertandingan ini?! Minggir kau!" marah Edward.

"Edward, kasihanilah singa jinak ini. Ia kan hanya disuruh bertanding, makanya ia tidak membunuh. Seharusnya kau juga begitu, tidak membunuh," ujar Rommy.

Edward menjadi dongkol mendengar nasehat Rommy. Tanpa bicara, ia langsung menyerang kakaknya itu. Rommy berusaha mengelak, dan tidak membalas menyerang. Para penonton seperti tersihir, dan tak ada yang berani mencegah. Sementara itu, Putri Rachel kagum melihat kebaikan Rommy.

"Prang..." pedang di tangan Edward jatuh. Rommy dengan sigap menawan Edward yang pucat. Ia tidak percaya bisa dikalahkan kakaknya.

Rakyat banyak langsung bertepuk tangan memberi selamat. Rommy cepat-cepat menolong singa yang terluka.

"Rakyatku, akhirnya pertandingan ini selesai. Pemuda pemenang ini akan mendampingi putriku!" seru Raja Istana Biru Langit.

"Hahaha, apa Putri Rachel tak takut melihat wajahnya?" teriak Edward.

"Ya ya, lihatlah wajahnya yang sebenarnya. Sangat buruk," teriak Albert.

"Baginda, wajahku memang sangat menakutkan. Karena itu hamba tidak berani membuka topeng ini. Biarlah Edward yang jadi pemenangnya, karena hamba memang tidak bermaksud mengikuti pertandingan ini. Hamba hanya ingin menolong singa ini..." ucap Rommy.

"Tidak! Pemuda bertopeng, apapun bentuk wajahmu, kaulah pemenangnya. Aku percaya kau akan menjadi pemimpin yang disegani…." teriak Putri Rachel tiba-tiba.

Putri Rachel turun dari tempat duduknya. Perlahan ia membuka topeng yang selalu membungkus wajah Rommy. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat wajah tampan di balik topeng itu.

"Kau sangat tampan, kenapa selalu bertopeng?" kata Putri Rachel.

Rommy tidak percaya pada ucapan Putri Rachel. Putri itu lalu memberinya kaca. Ternyata topeng ajaib itu telah merubah wajah Rommy. Menjadi tampan, sesuai dengan ketampanan hatinya.

Akhirnya Putri Rachel menikah dengan Rommy. Setelah menjadi raja, Rommy tetap tidak pernah melepaskan topengnya. Akhirnya ia dikenal dengan julukan Pangeran Bertopeng yang Bijaksana

Untuk kalian yang ingin membaca lebih banyak lagi cerita atau cerpen bobo, kalian bisa membaca kumpulan cerita bobo online di kidnesia.com.

Minggu, 21 Oktober 2012

Cerpen Bobo: Asyiknya Berbagi

Cerita Bobo - Cerpen Bobo Asyiknya Berbagi
"Kak Ita, boleh 'nggak pinjam pulpennya, satu. Punyaku tintanya habis," Ully merayu kakaknya. Ita menggeleng.

"Aku juga mau pakai."

"Kak Ita, kan, sedang menggambar."

"Memang. Tapi besok aku ada ulangan. Kalau tintanya habis saat sedang ulangan, bagaimana?"

"Yaa... Kak Ita. Pinjam sebentar, soalnya tanggung, aku sedang menyalin. Nanti malam pasti aku ganti dengan bolpen baru," Ully merayu lagi.

"Kalau kamu mau beli, ya beli sekarang saja. Kenapa harus nunggu sampai nanti malam."

"Dasar pelit!" Ully pergi sambil merajuk.

Selalu saja begitu. Buku, pinsil, bolpen, selalu saja jadi bahan pertengkaran. Ita memang sulit berbagi.

"Kenapa si orang-orang tidak berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri. Selalu merepotkan orang lain saja!" Ita bersungut ketika Ully sudah pergi. Tangan Ita sibuk menyelesaikan sketsa gambar yang ditugaskan gurunya. "Nah, sekarang tinggal mewarnai," Ita meraih kotak cat air. Dan…" Ya ampun! Kenapa aku bisa lupa…" Ita terbelalak memandangi tube cat air yang sudah kempes. Satu persatu dipencet-pencet. Kering semua. Ita lupa kalau cat sudah habis. Ia memakainya untuk mewarnai gambar Mickey yang ia pajang di dinding kamar.

"Ully masih punya 'nggak ya?" Ita bergumam. "Ih, buat apa pinjam pada Ully. Itu berarti membari kesempatan padanya untuk meminjam barang-barangku. Aku beli saja, ah!" setengah berlari Ita keluar dari kamarnya. Di pintu depan dia berpapasan dengan Ully.

"Mau ke mana Kak Ita?" Ully heran melihat kakaknya terburu-buru seperti itu. Ita menunjuk ke depan tanpa menjawab.

"Lapar ya, mau beli pisang goreng..."Ully menggoda. Ita mendelik.

"Makanan saja yang ada di pikiranmu. Beli cat air!"

"Kak Ita..."Ully mau mengucapkan sesuatu tapi tak jadi sebab Ita keburu lari. "Heran, Kak Ita tak pernah mau minta bantuan padaku. Coba kalau dia ngomong sama aku. Pasti kuberitahu kalau di warung depan itu tak ada cat air. Dan aku akan kasih pinjam cat airku," Ully bergumam.

Di dalam kamar Ully menimang-nimang cat air miliknya. "Kak Ita pasti dimarahi Bu Guru kalau gambarnya tidak selesai. Aku harus menolongnya. Tapi... biar saja deh. Dia juga pelit," Ully memasukkan lagi kotak cat air ke dalam laci. "Tapi kata Mama kita tidak boleh membiarkan orang yang memerlukan pertolongan," Ully mengeluarkan lagi kotak cat airnya. "Kupinjamkan… jangan… pinjamkan… jangan..." Ully menghitung-hitung jarinya. "Ah… kupinjamkan saja. Kasihan Kak Ita."

Dengan berjingkat-jingkat ia masuk ke kamar Ita. Lalu menaruh kotak cat air di meja belajar. Tapi belum sempat Ully keluar pintu kamar, Ita sudah keburu datang.

"Berani-beraninya kamu masuk kamarku tanpa ijin. Mau apa kamu? "Ita langsung sewot." Ayo keluar!" Ita mendorongUlly keluar kamar sebelum Ully sempat memberi penjelasan. Ita menutup pintu dengan kasar, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi. "Uh! Apa yang harus kulakukan. Gambar harus selesai. Di warung tak ada cat air. Pinjam sama Ully? Amit-amit! Eh, apa itu?" Mata Ita tertumbuk pada sebuah benda di atas meja belajar. Kotak cat air. Dia sangat terkejut ketika membaca sebaris nama di tutup kotak itu. "Ully…" Ita berbisik. "Ully masuk ke kamarku untuk meminjamkan cat air… Ah, dia pasti ada maunya!" Ita meraih kotak cat air, lalu bergegas menuju kamar Ully.

"Aku tidak memerlukan ini. Kamu pasti ingin aku meminjamkan pulpenku," ujar Ita sambil meletakkan kotak cat air di meja Ully. Sejenak Ully bengong. Lalu lalu menggeleng.

"Aku sudah beli tadi. Ini!" Ully mengacungkan pulpen yang baru dibelinya. "Aku pinjamkan itu karena aku tahu Kak Ita pasti memerlukannya."

"Kamu...?" Ita menatap Ully lekat-lekat. Ully mengangguk mantap.

"Pakai saja, isinya masih banyak kok." Ita ragu-ragu. Ully mengangsurkan kotak cat air ke tangan kakaknya. Malu-malu Ita meraihnya, lalu memeluk Ully erat-erat. Ita menyesal selama ini selalu berprasangka buruk pada adiknya. Bahkan pada orang-orang di sekelilingnya. Hari ini Ita sadar. Jika mau berbagi, hidup jadi terasa lebih menyenangkan.

Untuk kalian yang ingin membaca lebih banyak lagi cerita atau cerpen bobo, kalian bisa membaca kumpulan cerita bobo online di kidnesia.com.

Kamis, 18 Oktober 2012

Kisah Tulo dan Tulio - Cerita Bobo

Pada suatu ketika hiduplah dua bersaudara. Tulo si kakak dan Tulio si adik. Mereka sangat baik dan ramah. Namun ada keanehan pada tubuh mereka. Tulo memiliki kaki yang panjang setinggi rumah, namun tangannya pendek sekali. Sementara Tulio memiliki kaki yang amat pendek namun tangannya amat panjang sehingga bisa memeluk sebuah rumah. Anak-anak menyukai mereka. Namun orang dewasa menganggap mereka aneh. Tulo dan Tulio senang menghibur anak-anak. Mereka bercerita, melucu, bernyanyi...

Suatu hari Tulio berkata kepada Tulo, "Kak, aku mendengar cerita tentang kolam ajaib. Konon kolam itu bisa membuat tubuh kita normal. Aku tidak suka dianggap aneh dan ditertawakan. Ayo kita cari kolam ajaib itu."

Tulo berpikir sejenak. "Baiklah! Mari kita berpetualang mencari kolam ajaib itu!" ujarnya kemudian.

Di sepanjang perjalanan, Tulo an Tulio bertemu banyak orang. Ada yang menganggap mereka aneh, ada pula yang menerima mereka dengan senang hati. Yang jelas, kemanapun mereka pergi, mereka selalu menghibur anak-anak. Mereka bermain akrobat ataupun melucu. Anak-anak sangat gembira melihat pertunjukan mereka.

Lama-kelamaan orang dewasa pun mulai menyukai pertunjukan Tulo dan Tulio. Tulo dan Tulio menjadi amat terkenal. Mereka diundang di berbagai perayaan dan pesta. Ketenaran mereka akhirnya terdengar Raja Tenggara.

Raja mempunyai masalah. Putranya sangat pemurung. Ia tidak mau tertawa dan amat pemarah. Sifat putranya itu membuat raja sedih. Dengan sifat seperti itu, putranya akan sulit menjadi raja yang dicintai rakyatnya kelak. Berbagai tabib, pelawak, tukang sulap, tak mampu membuat pangeran kecil itu tersenyum. Raja Tenggara akhirnya mencoba memanggil Tulo dan Tulio. Ia berharap Tulo dan Tulio berhasil.

Kedua kakak adik itu datang ke istana Raja Tenggara. Mereka mencoba menghibur pangeran kecil. Mereka menari, menyanyi, melucu, dan berakrobat. Mula-mula pangeran kecil tak tertarik. Namun lama-lama ia mulai memperhatikan Tulo dan Tulio. Tulo dan Tulio memang berbeda dengan penghibur lainnya. Mereka sangat menyukai anak-anak. Tulo membopong sang pangeran kecil di atas pundak. Pangeran pun dapat melihat kota dengan jelas. Tulio menggunakan tangannya yang panjang untuk mengayun tubuh pangeran. Pangeran kecil merasa terbang seperti burung. Wah, hanya Tulo dan Tulio yang sanggup melakukan hiburan seperti ini.

Pangeran kini mulai sering tertawa dan bergembira. Pangeran itu juga tidak pemarah dan egois lagi. Rupanya selama ini pangeran merasa kesepian dan bosan. Tulo dan Tulio mengajarinya cara berteman dan menjaga perasaan orang lain.

Raja gembira luar biasa. "Mintalah apa saja. Pasti kukabulkan!" ujarnya pada Tulo dan Tulio.

"Baginda yang baik. Kami dua bersaudara sebenarnya sedang mencari kolam ajaib. Konon, kolam tersebut dapat membuat kami normal seperti orang lain. Jika Baginda tahu di mana tempatnya, ijinkanlah kami ke sana," jawab Tulo.

"Itu bukanlah permintaan yang sulit. Kebetulan sekali kolam ajaib yang kalian maksud itu adalah milikku. Pakailah sesuka kalian!"

Raja segera menyuruh pengawal mengantarkan Tulo dan Tulio. Sesampainya di kolam ajaib, Tulo dan Tulio langsung menceburkan diri ke dalam kolam ajaib. Luar biasa! Beberapa saat kemudian mereka menjadi orang normal. Kaki dan tangan mereka tidak lagi kepanjangan atau kependekan. Tulo dan Tulilo senang bukan sekali

Kini Tulo dan Tulio tak perlu merasa berbeda dengan orang lain. Mereka menjalani hidup baru mereka dengan puas. Namun lama kelamaan, mereka merasa kehilangan sesuatu. Ada yang kurang dalam hidup mereka.

Lama mereka berpikir. Akhirnya mereka sadar. Sekalipun keinginan mereka terpenuhi, namun mereka telah kehilangan sesuatu yang amat berharga. Yah, mereka telah kehilangan diri mereka sendiri. Tulo dan Tulio yang dulu telah hilang. Tidak ada Tulo yang kakinya sering dipanjati anak-anak dengan riang. Tidak ada Tulio yang mampu mengayunkan pangeran kecil sampai tergelak-gelak. Tidak ada lagi Tulo dan Tulio yang dulu sangat dicintai anak-anak. Orang banyak pun tidak dapat menyaksikan pertunjukan mereka lagi. Tulo dan Tulio mulai dilupakan orang.

Tulo dan Tulio mulai berpikir kembali. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya mereka kembali menghadap raja Tenggara.

"Yang Mulia, kami sangat senang menjadi normal. Namun kami telah kehilangaan diri kami. Lama kami berpikir. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali menjadi Tulo dan Tulio yang dulu. Sekalipun aneh, itulah diri kami yang sesungguhnya," ujar dua bersaudara itu.

Raja Tenggara kembali mengabulkan permintaan mereka. Raja menyuruh pengawalnya mengantar mereka ke kolam ajaib. Tulo dan Tulio segera menceburkan diri mereka ke kolam itu. Dan sejak itu, tubuh mereka kembali seperti semula. Hidup mereka pun kembali gembira seperti dulu. Dikelilingi anak-anak yang mencintai mereka.

Untuk kalian yang ingin membaca lebih banyak lagi cerita atau cerpen bobo, kalian bisa membaca kumpulan cerita bobo online di kidnesia.com.

Cerita Bobo - Melacak Jejak

Nigar kaget melihat kaver majalah Boo terbarunya robek. Terakhir kali ia melihat Igun yang membacanya. Segera ia menemui adiknya itu.

"Igun, kenapa kamu robek majalah baru ini?" Nigar setengah berteriak.

"Tidak sengaja. Tapi isinya masih bisa dibaca kan, Kak!" kilah Igun takut.

"Pokoknya kamu harus ganti. Kalau tidak, mobil-mobilan ambulan kamu itu akan kubuang ke sungai," ancam Nigar sewot. "Cepat, sekarang juga!"

Nigar ke luar kamar Igun dan menunggu di ruang tengah. Dilihatnya kemudian Igun ke luar kamar sambil membawa mobil-mobilan kesayangannya. Nigar tidak mau melihat ke arah Igun, ketika adiknya menelepon seorang temannya. Bahkan Nigar pura-pura tidak mendengar ketika adiknya pamit pergi.

Satu jam Nigar menunggu, Igun belum juga pulang. Dua jam berlalu. Bahkan sampai magrib tiba Igun tidak juga kembali. Ibu yang biasanya melihat Igun di depan teve langsung cemas.

"Coba cari adikmu, Gar!" ujar Ibu kuatir.

Nigar mematuhi permintaan Ibu. Diam-diam Nigar ikut cemas. Dicarinya Igun di setiap rumah teman yang diketahuinya. Tapi setelah berkeliling mengitari komplek, tak satupun teman Igun yang mengaku bermain dengan Igun. Nigar semakin cemas saja. Namun ia sedikit lega saat di perempatan jalan berpapasan dengan Oben, temannya yang terkenal sebagai detektif kampung. Segera saja ia menceritakan masalahnya pada Oben.

Oben tertegun beberapa saat. "Wah, kalau begitu kita harus melacak jejak adikmu dari rumahmu. Yuk, kita ke rumahmu dulu!" ajak Oben kemudian.

Nigar menuruti permintaan Oben. Hanya Ibu yang kebingungan karena Nigar bukan membawa pulang Igun, malah mengajak Oben.

"Sabar, Bu. Nanti Nigar jelaskan," ujar Nigar hati-hati.

Oben meminta Nigar mengulangi lagi apa yang dilihatnya sebelum adiknya keluar rumah.

"Pokoknya dia membawa mainan ambulannya, menelpon temannya, dan pergi," begitu kata Nigar.

"Hmmm, jadi sempat memakai telepon dulu… Kalau begitu aku harus tahu… Apa di rumah ini ada yang memakai telepon setelah Igun?" tanya Oben.

Nigar menggeleng. Ibu juga tidak merasa memakainya. Ayah belum pulang dari kantor jadi tidak mungkin memakai telepon itu.

"Syukurlah kalau memang demikian. Itu jadi mempermudah. Bu, saya pinjam teleponnya sebentar," Oben minta ijin. Ia lalu memijat tombol bertuliskan huruf ‘R’ di telepon. Sesaat kemudian terdengar sahutan dari seberang.

"Selamat malam! Maaf, apakah ini rumah Aca?" tanya Oben langsung.

"Bukan. Salah sambung," sahut suara di seberang.

"Tunggu dulu, Om, jangan ditutup. Saya saudara Igun. Kalau boleh tahu, apakah Igun sedang bermain di sana?"

"Igun? Oooo... teman sekelas Farhan itu…ya? Ada. Memangnya kenapa?"

"Ibunya mencari-cari sejak sore. Kalau begitu, tolong jangan beri tahu Igun kami menelpon. Kami akan ke sana menjemputnya. Di mana alamat rumah Farhan, Om?"

"Jalan Percetakan duabelas."

"Terima kasih, Om. Selamat malam." Oben meletakkan gagang telepon. "Nah, sekarang kita tinggal menjemputnya. Mudah, kan?"

Nigar menggeleng. "Belum tentu Igun mau pulang denganku," kilahnya.

"Ya, itu sudah tugasmu sebagai kakaknya."

"Ayolah, temani aku menjemput Igun."

"Bukan apa-apa, Gar. Aku belum makan malam nih. Aku lapar."

"Itu soal gampang. Nanti kutraktir makan nasi goreng Mang Aep kalau berhasil membujuk Igun pulang." Nigar tahu, Oben paling suka nasi goreng.

"Oke deh kalau begitu!" sahut Oben.

Mereka segera bersepeda ke Jalan Percetakan dua belas.

"Ngomong-ngomong, bagaimana tadi kamu tahu kalau Igun ada di rumah Farhan?" tanya Nigar ingin tahu.

"Mudah saja. Kamu yang bilang, Igun menelpon seseorang sebelum pergi. Jadi kupikir ia pasti pergi ke temannya itu."

Nigar manggut-manggut. "Lantas darimana kamu tahu nomor teleponnya?"

"Juga mudah. Selama pesawat teleponmu itu belum dipakai siapapun, nomor telepon yang terakhir dihubungi akan otomatis terekam. Kita dapat menghubungi nomor itu dengan menekan tombol redial, artinya menghubungi ulang," papar Oben.

Akhirnya mereka tiba di rumah Farhan. Dan Igun benar ada disitu. Tapi seperti yang diduga Nigar, adiknya ngotot tidak mau pulang.

"Kak Nigar jahat sih. Mobil ambulan Igun mau dibuang ke sungai. Igun kan tidak sengaja merobek sampul majalah Bobo-nya," Igun mengadu kepada Oben.

"Maksud Kakak biar kamu bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan," sanggah Nigar.

"Pokoknya Igun tidak mau pulang."

"Kakak janji tidak akan meminta Igun menggantikan majalah itu. Juga tidak akan membuang ambulan Igun," sahut Nigar, kuatir Igun tidak mau pulang. Kalau Ayah sampai tahu, bisa-bisa ia tidak boleh main selama sebulan penuh.

Igun tersenyum. "Saksinya Kak Oben tuh," tunjuk Igun. Tak lama kemudian mereka pamit pulang kepada orang tua Farhan.

Nigar mengkayuh sepedanya sambil membonceng Igun. Sementara Oben dengan sepedanya berbaris di belakangnya sambil berbicara dengan Igun.

"Igun, kamu sering-sering kabur dari rumah ya kalau dimarahi Nigar," teriak Oben.

"Memangnya kenapa, Kak?" Igun heran.

"Biar aku bisa sering gratis makan nasi goreng Mang Aep. Cuma kalau kabur, beritahu aku dulu kemana perginya…."

"Hahahahaha...itu sih bukan kabur namanya!" timpal Nigar.

"Hahahahaha...nasi goreng! Nasi goreng!" teriak Oben lantang.

Untuk kalian yang ingin membaca lebih banyak lagi cerita atau cerpen bobo, kalian bisa membaca kumpulan cerita bobo online di kidnesia.com.

Birbal dan Punggawa Tak Jujur - Cerpen Bobo

Punggawa Bondil terkenal licik. Namun tak seorang pun berani melaporkan kelicikannya itu kepada raja. Sebab, sulit sekali mencari buktinya. Pada suatu hari, Punggawa Bondil iseng menawari seorang lelaki miskin 5 koin emas. Asal, lelaki itu mau berendam di kolam kota, semalam suntuk. Karena butuh uang, lelaki miskin itu bersedia. Malam harinya ia mencebur ke kolam kota. Semalaman ia berendam di situ. Dua penjaga mengawasinya dari pinggir kolam. Mereka menjadi saksi bahwa lelaki itu tidak keluar dari kolam semalaman.

Keesokan paginya, barulah lelaki itu keluar dari kolam. Kedua penjaga melapor, tak sedetik pun lelaki miskin ini meninggalkan kolam. Mendengar ini Punggawa Bondil merasa keewa. Ia tak menyangka, lelaki kurus itu bisa bertahan di dinginnya air kolam semalaman.

Punggawa Bondil yang licik itu tak mau kehilangan 5 keping koin emas. Ia lalu mencari akal, mencari-cari kesalahan lelaki itu agar taruhan dibatalkan. Maka ketika lelaki miskin itu datang menagih janji, Punggawa Bondil pun bertanya, "Apakah ada lampu di sekitar kolam itu?"

Lelaki miskin itu menjawab jujur, "Ada, Tuanku. Sebuah lampu teplok, dipakai menerangi jalan. Jaraknya dari kolam kira-kira seratus langkah."

"Apakah kau memandangi lampu jalanan itu?" lanjut Punggawa Bondil.

"Ya, sesekali," jawab lelaki miskin.

"Nah, mengaku kan? Kau tahan berada dalam air kolam karena dibantu panas dari lampu jalanan itu. Kau curang! Kau kalah taruhan!" Dengan kasar Punggawa Bondil mengusir lelaki miskin itu.

Lelaki miskin itu merasa ditipu. Api kecil pada lampu jalanan itu samasekali tidak ada pengaruhnya pada dinginnya air kolam. Punggawa Bondil memang hanya mencari alasan agar tidak mengeluarkan uang. Lelaki miskin itu lalu menemui Birbal. Ia adalah pria paling bijaksana di negeri itu. Birbal adalah juga penasehat kepercayaan Kaisar Akbar, penguasa negeri tersebut.

Birbal berjanji, "Besok, perkaramu akan beres."

Esok harinya, tidak seperti biasanya, Birbal tidak hadir di istana. Ia samasekali tidak memberitahu apa alasannya. Padahal hari itu ia harus menghibur Kaisar Akbar dengan lelucon-lelucon lucunya.

Baginda menjadi gelisah. Ia khawatir jangan-jangan Birbal jatuh sakit. Ia segera mengirim utusan untuk menjenguk Birbal. Tak lama kemudian, utusan Kaisar Akbar kembali ke Istana, "Yang Mulia, Birbal sedang memasak air. Ia akan datang setelah airnya matang," lapornya.

Baginda menunggu. Dua jam telah berlalu. Birbal belum juga menampakkan batang hidungnya. Tiga jam, empat jam, lima jam… Sampai menjelang sore Birbal belum juga muncul di Istana.

"Birbal memasak air seberapa banyak? Dengan apa? Masa, seharian belum juga matang!" batin Kaisar Akbar.

Karena penasaran, baginda datang sendiri menengok Birbal. Kaisar sangat heran ketika melihat apa yang dilakukan penasehatnya itu. Tampak Birbal kerepotan mengembus api kecil agar nyalanya membesar. Sementara panci yang penuh berisi air, tertopang tingggi di atas tiga galah bambu panjang.

Kaisar Akbar menegurnya, "Hai Birbal, apa kau telah hilang ingatan? Mana mungkin panas api kecil di bawah itu bisa mematangkan air di panci yang berada di pucuk galah bambu? Sampai kiamat sekali pun, airnya tetap saja dingin. Dari siapa kau belajar memasak seperti itu?"

Birbal menjawab, "Yang Mulia, hamba belajar dari Punggawa Bondil. Menurutnya, orang yang berendam di kolam yang dingin bisa merasa hangat jika menerima panas dari lampu teplok di kejauhan. Jadi, kalau hamba memasak begini, pasti air panci di ujung galah itu juga bisa mendidih." Setelah itu Birbal bercerita tentang taruhan Punggawa Bondil dan si lelaki miskin.

Kaisar Akbar menjadi murka mendengar cerita Birbal. Ia lalu memanggil Punggawa Bondil dan si lelaki miskin. Sekali lagi Kaisar Akbar mendengar penjelasan dari si lelaki miskin. Kini ia tahu persis bagaimana kelicikan Punggawa Bondil.

"Uang lima keping emas itu harus diberikan pada lelaki itu. Dan Punggawa Bondil mulai hari ini diberhentikan dengan tidak hormat," begitu keputusan Kaisar Akbar.

Untuk kalian yang ingin membaca lebih banyak lagi cerita atau cerpen bobo, kalian bisa membaca kumpulan cerita bobo online di kidnesia.com.

Cerita Bobo: Badut Simon

Tidak seorang pun tahu kalau Pak Simon adalah seorang badut. Bahkan isteri dan anaknya pun tidak tahu. Orang-orang hanya mengira Pak Simon itu tidak punya pekerjaan tetap.

Seperti biasa, pagi ini Pak Simon mengayuh sepedanya menuju kota. Ia berhenti di dekat rumah mungilnya di sudut kota. Di sanalah ia menyembunyikan barang-barangnya. Pak Simon menengok ke kiri dan ke kanan, mencari saat yang tepat untuk masuk ke rumah itu. Tergesa-gesa ia membuka pintu, memasukkan sepedanya lalu menutup pintu dari dalam. Pak Simon lalu melangkah ke depan lemari kayu tua yang cerminnya telah retak. Di depan cermin ia berdiri.

"Akulah Simon! Akulah badut kota! Tetapi aku tidak ingin orang-orang tahu kalau Simon adalah seorang badut," kata hati Pak Simon sambil tersenyum. Telah lima tahun ia menyimpan rahasia itu.

Seperti biasa, Pak Simon lalu membuka lemari itu. Ia mengambil peralatan make-up dan pakaian badutnya. Pak Simon mulai bersolek hingga ia yakin wajahnya tidak lagi dikenali sebagai Simon. Ia memoles wajahnya dengan make-up, menempel bulatan karet di hidungnya, dan mengenakan rambut palsu serta topi kerucut. Ia juga melilitkan spon di perut dan pinggangnya hingga terlihat gendut. Terakhir ia memakai pakaian badut bermotif bulat-bulat aneka warna, dan sepatu berhak tinggi.

Pak Simon berkaca untuk memastikan penampilannya. Setelah itu ia mengantongi beberapa bola kecil dan peralatan lainnya. Ia pun meraih sepeda roda satunya. Setelah mengunci pintu rumahnya, ia menaiki sepeda roda satu itu menuju keramaian pusat kota.

"Badut! Badut!" terdengar teriakan anak-anak kecil bersorak. Pak Simon tersenyum. Ia memulai atraksinya. Berputar-putar di atas sepeda sambil melempar-lempar beberapa bola dengan kedua tangannya. Orang-orang mulai merubungnya untuk menonton. Pak Simon juga meletakan sebuah mangkuk plastik di hadapan orang-orang itu. Satu demi satu orang-orang melemparkan uang recehan ke dalam mangkuk. Mereka rela memberikan uang mereka. Pertunjukan atraksi Pak Simon memang lucu dan menggemaskan. Penonton merasa terhibur.

Waktu terus berlalu. Pak Simon masih melanjutkan atraksinya. Tetapi tiba-tiba jantungnya berdegup kencang ketika melihat seorang wanita yang menggendong anak kecil. Anak itu tampak sangat kagum memperhatikan gerak-geriknya.

"Aduh! Istriku! Mengapa ia ke sini dengan Upik?" Pak Simon cemas. Ia khawatir istri dan anaknya tahu kalau selama ini ia bekerja sebagai badut. Saat pikirannya sedang kalut, tiba-tiba…

"Copet! Copet!" terdengar teriakan istri Pak Simon. Pak Simon kenal betul suara istrinya itu. Spontan ia melempar bola yang dipegangnya ke arah copet yang membawa lari dompet istrinya. Sayang tidak kena sasaran. Pak Simon meloncat dari sepedanya dan berlari menyibak kerumunan orang yang termangu. Pak Simon kembali melempar bolanya dengan keras. Kali ini tepat mengenai kepala si pencopet. Ia merasa pening lalu tersungkur. Pak Simon berlari mendekatinya. Beberapa orang segera menahan di pencopet. Pak Simon segera mengambil dompet itu, lalu diberikannya pada istrinya.

"Terima kasih!" kata Bu Simon sambil tersenyum. Pak Simon hanya tersenyum, tak berani bicara. Namun, gigi taring Pak Simon yang ompong terlihat. Bu Simon agak terkejut tetapi Pak Simon tidak mempedulikannya. Setelah menyalami Bu Simon dan Upik , ia segera menjauh untuk kembali beratraksi.

"Giginya ompong, persis Ayah ya, Upik," ujar Bu Simon pada anaknya. Ia lalu mengajak Upik pulang.

Selesai pertunjukan, Pak Simon meraih mangkuk berisi uang. Ia lalu mengayuh sepeda roda satunya menuju rumah mungilnya. Seperti biasa ia segera membasuh muka, membersihkan make-up dan ganti baju. Ia kembali mengenakan pakaian seperti saat ia berangkat tadi. Setelah menghitung uang perolehannya, Pak Simon segera mengeluarkan sepedanya, mengunci pintu dan mengayuh sepeda untuk pulang.

"Akulah Simon! Akulah badut kota!" kata Pak Simon dalam hati. Setiba di rumah, Bu Simon dan Upik menyambutnya.

"Pak! Tadi aku kecopetan di kota. Saat itu aku sedang mampir nonton badut dengan Upik. Badut itulah yang membantu meringkus pencopet itu," Pak Simon tersenyum mendengar cerita istrinya.

"Kau kenal dengan badut itu, Bu?" tanya Pak Simon.

"Tidak! Yang kuingat, gigi badut itu ompong seperti Ayah."

"Iya. Badutnya ompong seperti Ayah," kata Upik. Pak Simon tertawa.

"Akulah badut itu, Bu. Akulah badut itu, Nak! Akulah Simon! Akulah badut kota!" kata Pak Simon. Tetapi hanya di dalam hati. Entah sampai kapan Pak Simon sanggup menyimpan rahasia itu...

Untuk kalian yang ingin membaca lebih banyak lagi cerita atau cerpen bobo, kalian bisa membaca kumpulan cerita bobo online di kidnesia.com.

Minggu, 01 Januari 2012

Cerpen Bobo: Ary dan Arie

Cerita Bobo - Cerpen Bobo Ary dan Arie
Bel tanda istirahat baru berbunyi beberapa menit lalu. Tapi keributan di kelas enam sudah mulai. Pertengkaran mulut antara Ary dan Arie. Seperti biasa, masalah nama mereka. Meski ditulis berbeda, tapi dibaca sama, yakni Arie.

"Pokoknya kamu harus mengganti nama panggilanmu," seru Ary lantang.

"Kenapa aku yang harus mengganti? Kenapa bukan kamu?" balik Arie.

"Karena aku lebih dulu sekolah di sini. Sedang kamu anak baru! Lagipula panggilan itu cuma pantas buat anak laki-laki," sambung Ary.

Arie bertolak pinggang. "Peraturan mana itu?" tantang Arie.

"Peraturannya belum kubuat. Tapi buktinya banyak. Lihat saja bintang sinetron, Arie Wibowo atau Arie Sihasale, itu semuanya cowok. Pokoknya, mulai besok kamu harus mengganti nama panggilanmu," ancam Ary.

"Enak saja. Kamu saja. Nama panjangmu itu Aryanto Sadewa. Ganti saja menjadi Yanto, Sade atau Dewa. Kalau namaku memang Arie Manisha. Jadi panggilanku memang Arie," Arie bersikeras.

Anak-anak kelas enam yang melihat hanya menggelengkan kepala. Sudah dua hArie ini kelas mereka selalu ramai saat istirahat. Sejak kehadiran anak baru bernama Arie. Masalahnya hanya sebuah nama. Tapi keduanya sama-sama keras kepala.

Di luar kelas anak-anak mulai mengadu kepada Oben, sang ketua kelas.

"Tidak baik membiarkan mereka terus bertengkar, Ben," desak Rani.

"Aku juga tidak suka melihat mereka bertengkar. Hanya saja kupikir, mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri," sahut Oben.

"Tapi kalau sudah begini...apa kamu mau diam terus?" desak Puput.

"Aku sudah punya rencana. Mulai besok pagi, kita jalankan rencana ini," kata Oben. Ia segera memaparkan rencananya. Ketika sekolah bubar seisi kelas enam sudah memahami rencana itu. Tentu saja selain Ary dan Arie.

Keesokan paginya Ary seperti biasa berangkat dengan sepedanya. Dalam perjalanan ia menjemput Dika dan Asep.

"Kalian sudah bikin pe-er matematika?" tanya Ary sambil mengayuh sepeda.

"Sudah. Kamu, Wa?" balik Dika.

"Dewa, biasanya kamu suka lupa. Hati-hati, nanti kena hukum lagi," susul Asep.

"Dewa...? Kalian memanggilku Dewa? Heh, pasti kalian sudah kena suap anak baru itu, agar memanggilku Dewa."

"Maksudmu, Nisha menyogok kami? Tidak sama sekali!" kilah Asep.

"Nisha? Jadi kalian juga mengganti nama panggilan anak baru itu? Hahaha, ini pasti ulah Oben!"

"Ya, kami sekelas terpaksa sepakat mengganti nama panggilan kalian. Habis, tak ada yang mau mengalah, sih," jelas Dika.

"Hmmmm, tapi tak semudah itu. Aku tidak akan menyahut dengan nama panggilan itu," Ary bersikeras.

"Ayolah...apa jeleknya sih nama panggilan Dewa. Malah kelihatan lebih gagah untukmu," bujuk Dika.

"Hmm, kedengarannya tidak enak saja..." Ary mengayuh sepedanya lebih cepat. Ia meninggalkan kedua temannya itu. Sampai di kelas, teman yang lain ternyata memanggilnya dengan nama Dewa.

Kejanggalan pun dirasakan oleh Arie. Ia kaget ketika teman-temannya mulai memanggilnya Nisha. Arie tidak berani protes, karena semua teman sekelasnya memanggilnya begitu.

Oben sedikit lega ketika tahu rencananya berjalan mulus. Tapi benarkah?

Ternyata tidak! Tiba-tiba di saat istirahat seisi kelas enam terkejut melihat Arie menangis sesegukkan di bangkunya.

"Kenapa kamu menangis, Nisha?" tanya Rani yang sebangku dengannya.

"Aku sedih...karena...kalian memanggilku...Nisha...."

"Oh... itu kami lakukan karena kau dan Ary selalu bertengkar," jelas Rani.

"Tapi aku sedih jika dipanggil Nisha. Nama panggilan itu membuat aku teringat pada nenekku. Dulu sebelum pindah ke sini, aku tinggal di kota Lembang bersama nenekku. Ia selalu memanggilku Nisha. Tapi belum lama ini nenekku meninggal. Aku merasa kehilangan dan harus pindah ke sini dengan orang tuaku. Kini setiap orang memanggilku dengan nama Nisha...aku jadi sedih," papar Arie.

Puput dan Rani melirik ke arah Oben.

"Kalau kamu tidak mau dipanggil dengan nama Nisha, kamu boleh memilih sendiri nama panggilan barumu," usul Oben kemudian.

"Sungguh? Kalian akan memanggilku dengan nama yang kusuka?"

"Ya," semua menyahut.

"Cantik. Aku suka nama itu. Kalian mau memanggilku Cantik, kan?"

Tidak ada yang menyahut. Mereka menelan ludah.

"Tentu saja," sahut Oben buru-buru. Ia menahan rasa gelinya di hati. "Mulai sekarang kami akan memanggilmu Cantik."

Arie kelihatan senang mendengarnya.

"Tunggu dulu! Aku protes!" Tiba-tiba terdengar suara Ary. "Kalau dia boleh memilih sendiri nama panggilannya, mengapa aku tidak?"

"Memangnya kamu mau dipanggil apa?" tanya Oben langsung.

"Raul. Raul Gonzales Blancho!" Ary menyebut pemain sepak bola favoritnya.

"Huuuuuuu!!! Raul itu putih, hidungnya mancung, dan ganteng... Sedangkan kamu..." Puput menyela.

"Sudah-sudah, biar saja. Barangkali saja setelah dipanggil Raul, ia berubah jadi putih, mancung dan ganteng..." Oben berusaha menenangkan. "Ada lagi yang mau protes?"

Tak ada yang berani memprotes lagi. Tak ada lagi keributan tentang nama panggilan di waktu istirahat. Sejak itu Ary dan Arie dipanggil dengan nama Cantik dan Raul. Hanya guru-guru saja yang tetap memanggil mereka, Ary dan Arie.

Untuk kalian yang ingin membaca lebih banyak lagi cerita atau cerpen bobo, kalian bisa membaca kumpulan cerita bobo online di kidnesia.com.

Kamis, 20 Januari 2011

Cerpen Bobo: Pengamen Bindeng

“Lihat nih aku dapat uang banyak!” kata Udin beberapa saat setelah turun dari bus kota. Rupanya ia baru saja mengamen. Uang receh dan uang kertas di dalam bekas bungkus permen di genggamannya terlihat penuh. Wajah anak itu berbinar senang.

“Wah, pasti kamu nyanyinya bagus banget sehingga penumpang kasih kamu uang banyak!” kata Genta, tukang semir sepatu , teman Udin.

Mereka selalu berkumpul di perempatan jalan dekat terminal untuk beristirahat. Genta sehari harinya adalah penyemir sepatu di warung warung sekitar terminal. Sedangkan Udin , Bambang dan Leman mengamen sendiri sendiri..

“Begitulah!” kata Udin gembira sambil menghitung uangnya. Genta terlihat senang juga melihat hasil yang didapat Udin, Ibu Udin saat ini sedang sakit, ia perlu uang banyak untuk berobat karena itu sudah seminggu ini Udin mulai ikut mengamen di dalam Bus.

“Padahal kamu ngamen nggak pakai alat musik ya,Din?” cetus Leman heran, “Terus kamu nyanyi Cuma pakai tepuk tepuk tangan saja ya?”

Leman sendiri mengamen dengan menggunakan gitar kecil pemberian mendiang kakeknya. Suara Leman bagus sekali dan ia sangat mahir memainkan gitar kecil itu. Tetapi uang yang didapatnya tidak pernah sebanyak yang didapat Udin setiap hari.

Mereka berempat adalah teman satu sekolah dan rumah mereka berdekatan, ketika mereka tahu Ibu Udin sakit, mereka menganjurkan Udin untuk ikut mengamen atau jadi penyemir sepatu di terminal.Udin menerima ajakan teman temannya.

“Tuh Bambang datang,kok dia lesu amat…” tunjuk Genta pada temannya yang terlihat baru turun dari Bus.

“Lesu,Bang?”

“Yaah, mungkin karena suaraku tidak bagus yaa jadi nggak banyak yang kasih aku uang, lagian katanya Bang Poltak kondektur PPD ada pengamen yang suaranya bindeng yang ngamen sebelum aku, penumpang semua kasihan sama dia…”

Genta dan teman temannya berpandangan,”Pengamen Bindeng??”

Bambang mengangguk, “Sebetulnya sih bukan ngamen, suaranya aja hampir nggak ada katanya…jadi orang kasihan sama dia…”

“Yang mana ya orangnya? Aku kok nggak pernah lihat? Kalian pernah lihat?” tanya Udin. Genta dan Leman menggeleng. Tetapi memang begitu banyak pengamen di terminal ini, tidak semua yang mereka kenal.

Genta berlari lari menyetop Bus Mayasaribakti yang merapat di halte. Ia mau ke daerah Tebet, ke rumah Pakdhe Santoso yang mau hajatan sunat Rio,sepupunya. Ia diminta datang menginap.
Ia duduk di kursi belakang, terhimpit himpit oleh penuhnya penumpang. Genta sudah terbiasa turun naik Bus kalau kemana mana. Meskipun baru berusia sepuluh tahun tapi ia tidak pernah takut pergi sendirian.

Di halte berikutnya Bus terasa merapat. Genta tidak bisa melihat keluar karena terhalang penumpang penumpang dewasa yang berdiri.

Dari arah depan Bus kemudian terdengar suara suara yang aneh. Suara bindeng , seperti orang bisu yang berusaha mengeluarkan suara. Antara sengau dan bindeng. Genta berusaha melongok kearah suara itu tapi tak bisa.

“Kasihan ya, bindeng begitu masih berusaha ngamen…” kata seorang Bapak yang berdiri dekat Genta.

“Ooh pengamen ya Pak…” ujar Genta mengangguk ngangguk. Mungkin pengamen ini yang kemarin diceritakan Bambang. Dilihatnya seusai pengamen itu menyanyikan lagu yang tidak jelas bunyinya, orang orang kelihatan mengeluarkan uang receh mereka untuk siap siap diberikannya pada pengamen bindeng itu.

Pengamen itu terdengar menggoyangkan kantong uangnya yang sudah berisi uang receh. Genta juga sudah menyiapkan uang logam seratus rupiah untuk diberikan pada pengamen itu.

“Te..i..ma.a..iih” terdengar suara pemngamen itu berusaha mengucapkan terimakasih pada penumpang yang memberinya uang.

Ketika pengamen itu menyeruak diantara rapatnya penumpang di belakang, Genta kaget bukan main. Pengamen itu juga terlihat sangat terkejut melihatnya.

“Udin…?” desis Genta terpana.

Udin yang mengenakan topi lusuh dan baju yang sebagian sudah robek langsung bergegas menembus penumpang lalu melompat turun dari pintu belakang ketika Bus merapat ke halte berikutnya.

Genta juga begegas turun di halte tersebut.

“Din!!!” ia berlari mengejar Udin yang berusaha menghindarinya di halte.

Ketika langkahnya sudah menjajari Udin, Genta menarik lengan temannya ke pinggir dimana tidak begitu banyak orang disana.

Udin menunduk malu.

“Jadi begitu cara kamu ngamen,Din?”tanya Genta”Pantas orang banyak kasih kamu uang…”

Udin mengangguk, “Iya Gen,…soalnya aku nggak bisa nyanyi, nggak bisa main alat musik juga,jadi aku berpura pura jadi pengamen bindeng saja…”

“Tapi itu namanya menipu,Din…” ujar Genta prihatin menyadari apa yang telah dilakukan Udin,
“Dan itu dosa. Kalau kamu nggak bisa nyanyi, nggak bisa main alat musik, kamu kan bisa nyemir kayak aku….asal Halal…”

“Tapi aku perlu banyak uang untuk Ibu!” kata Udin sengit.

“Tapi kan bisa bisa dicari dengan cara yang Halal,Din…Allah Maha Mengetahui kok. Kalau kamu sudah berusaha sebaik baiknya, dengan cara yang di ridhoi Allah, Allah pasti akan kasih kamu jalan…itu yang dibilang Ustad Adam, inget nggak?” tukas Genta, “Kalau dengan cara menipu orang seperti ini, Allah malah marah Din…”

Udin terdiam. Sebetulnya jauh di dalam hatinya ia juga tak ingin melakukan ini. Tetapi setiap kali teringat wajah pucat Ibunya, ia jadi tidak perduli dengan jalan yang ditempuhnya.

“Sudah lah,Din…aku juga nggak mau memaksa kamu kok…Yang penting aku sudah ngingetin kamu…bahwa yang kamu tempuh ini salah…Sudah ya, aku mau melanjutkan perjalanan ke rumah Pakde ku….”kata Genta sambil bergegas meninggalkan Udin yang masih menunduk.

“Gen!!” panggil Udin ketika Genta sudah agak menjauh, “jangan bilang bilang teman teman yang lain ya…aku malu…Mulai besok aku boleh ikut nyemir bareng kamu?”

Genta mengangguk pasti, “Tentu Din! Kau masih punya kotak semir cadangan di rumah, kamu bisa pakai dulu…”

Seminggu kemudian ketika Genta dan teman temannya sedang beristirahat di perempatan jalan seperti biasa, Genta mendengar Bambang bicara pada Leman.

“Heran, kata Bang Poltak, pengamen bindeng itu seminggu ini sudah nggak kelihatan ngamen lho, Man..”

Udin memandang Genta dengan pandangan berterimakasih karena Genta tidak menceritakan apa yang diketahuinya pada teman temannya.

Untuk kalian yang ingin membaca lebih banyak lagi cerita atau cerpen bobo, kalian bisa membaca kumpulan cerita bobo online di kidnesia.com.

Cerpen Bobo: Teman Setia

Hari ini aku kesal pada Rubi. Ia berulangkali marah dan menotok notok kepalaku ke meja. Padahal yang membuatnya marah bukan kesalahanku.

Rubi kesal karena semenjak setengah jam yang lalu ia hanya bisa mengerjakan dua soal saja dari sepuluh soal Matematika yang diberikan Pak Guru.

Sementara teman teman yang lain sudah mengerjakan sedikitnya enam soal.

“Makanya belajar ,Bi!” kataku sebal. Rubi melotot ke arahku dan menggusal gusalkan lagi kepalaku ke meja.

“Kasar banget sih!” seruku.

“Rasain!” hardik Rubi.

“Rubi!!” seru Pak Guru, “Kenapa sejak tadi tidak bisa tenang?” Rubi menunduk.

“Rasain!” balasku. Ribu menyurengkan matanya menatap kepalaku.

Ia mulai menulis beberapa rumus di kertas dan mencoba memecahkannya. Sayangnya, ia tetap saja tidak bisa.

“Apa kata mama,Rub…makanya jangan terlalu sering keluar main Bola!” kataku menasehati, ”Kamu membiarkanku menunggumu di rumah menemanimu belajar, tapi kamu malahan enak enakan main bola!!”

“Coba kalau kamu sadar kalau hari ini ujian, kan kemarin seharusnya kamu belajar bersamaku!” keluhku lagi.

“Padahal semalam aku kan belajar!” jawab Rubi.

“Iya, kamu belajar Cuma sebentar, karena kecapean bermain Bola!” sergahku.

“Sekarang giliran kamu nggak bisa mengerjakan soal, kamu marah marah ke semua, termasuk padaku!”

“Harusnya kamu bisa membagi waktu antara waktu bermain dan belajar..” kataku lagi menasehati Rubi.

“Aduuh,gawat nih kalau jelek ulangan, Mama Papa pasti marah” keluh Rubi.

“Udah deh, pasrah aja…memang salah kamu kok!Eeeh jangan coba coba nyontek pada Beni!!” teriakku ketika Rubi mencuri curi lihat pekerjaan Beni.

Rubi mencibir ketika Beni menutupi kertas ulangannya.

“Bagus,Ben!” seruku senang.

“Ini pelajaran buat kamu Bi,…lebih baik kamu banyak banyak bermain denganku. Lebih banyak manfaatnya!” kataku.

Bel berbunyi. Semua bergegas mengumpulkan kertas ulangan pada Pak guru.

Rubi meninggalkanku sambil berjalan loyo ke meja Pak guru.

Beberapa menit kemudian ia kembali ke tempat duduk. Kelihatannya Rubi menyesal tidak belajar dengan benar semalam, padahal soal soal yang diberikan Pak guru semuanya mirip dengan yang di buku. Cuma angkanya saja yang berbeda.

“Nggak bisa ya tadi,Bi?” Tanya Beni kepadanya.

Rubi menggeleng.

“Tenang Bi, kita akan harus banyak belajar bareng..oke?” kataku .

Rubi menatapku lalu memasukan ku ke dalam kotak pensilnya. Aku berjanji akan setia menemaninya belajar, karena aku adalah pensil kesayangan Rubi.

Untuk kalian yang ingin membaca lebih banyak lagi cerita atau cerpen bobo, kalian bisa membaca kumpulan cerita bobo online di kidnesia.com.

Cerpen Bobo: Buku Harian Firli

Firli terkadang iri pada Sofi dan Anto , teman sekelasnya. Mereka berdua punya kepandaian yang mengagumkan.

Sofi pintar sekali bermain piano, selain sekolah, ia juga belajar piano pada Sekolah Musik terkenal. Waktu Firli main ke rumahnya, ada beberapa piala berderet di ruang tamunya. Piala piala Sofi ketika mengikuti berbagai kontes piano. Kalau ada acara acara Musik di sekolah pasti Sofi tampil memainkan lagu lagu klasik dan pop yang membuahkan tepuk tangan para orangtua murid yang hadir….

Anto lain lagi, ia jago melukis. Beberapa kali ia mewakili sekolah pada lomba lukis tingkat sekolah dasar sampai tingkat Nasional. Hampir di semua lomba ia menyabet gelar juara.

Ah, seandainya aku punya kepintaran seperti dia, pasti bangga deh. Mama Papa juga pasti bangga sekali. Ia membayangkan menikmati tepukan tangan penontonnya seusai memainkan sebuah lagu yang indah dengan alunan piano.

Sayangnya Firli merasa tidak punya kelebihan atau bakat apa apa yang bisa menonjol seperti mereka. Baca Not Balok saja ia nggak bisa. Melukis? Aduuh, Daffa adiknya yang hobi menggambar sering mencela gambarnya seperti gambar anak TK. Padahal untuk membuat gambar itu Firli sudah kerja keras.

Malam Didie…

Aku berkhayal menjadi seorang pianist terkenal, minimal terkenal di sekolah seperti Sofi. Di hadapan tuts tuts piano . Dari tarian tanganku di atas bilah hitam putih itu mengalir lagu lagu yang sangat indah. Membelai telinga dan hati yang menontonku.
Penelitian telah membuktikan bahwa musik bisa mempengaruhi suasana hati kita. Dengan musik yang kumainkan, orang yang sedih bisa mendapat keceriaan, atau bahwa tambah bersedih.

Diary,..kubayangkan tanganku menari,berlari dan meloncat di atas tuts piano….

…dan seterusnya. Setiap hari Firli menuangkan perasaannya dalam buku harian merah muda yang diberinya nama Didie. Ia begitu karena setiap kali bicara pada Mama dan Papa pasti jawabannya sama.

“Setiap orang kan di beri Allah kelebihan dalam dirinya. Namanya Bakat. Sofi dan temanmu Anto itu sudah terlihat bakatnya pada Musik dan Melukis…jadi jangan berkecil hati,Nak….suatu saat Firli pasti akan mengetahui kemana Bakat Firli. Bakat bisa membuat orang berprestasi kalau ada kemauan juga…”

Jawaban Papa juga setali tiga uang dengan Mama.

Melukis pegunungan di hadapanku dan menuangkannya ke atas kanvas. Memainkan warna hijau yang meneduhkan pada sawah sawah di kaki gunung. Serta Matahari yang menyembulkan kepalanya diantara lekukan gunung. Masih malas karena ia baru saja keluar dari peraduan….

Tulisnya lagi di malam yang lain tentang betapa inginnya ia bisa seperti Anto yang bisa menghasilkan lukisan indah dari tangannya….

Tante Rima datang di akhir minggu dan menginap semalam. Firli senang bukan kepalang. Tante Rima itu baik sekali. Ia suka menceritakan kejadian kejadian lucu saat peluncuran buku karangannya. Tante Rima adalah seorang penulis. Beberapa bukunya sudah beredar di toko toko buku.

“Tante tidur sama aku ya!!” bujuk Firli semangat.

“Beres,Non!”

Malamnya Tante Rima tidur di kamar Firli. Firli bercerita tentang sekolahnya, teman temannya dan juga keinginan keinginanya bisa seperti Sofi dan Anto.
Ketika Firli terlelap ia menyelimuti keponakaannya itu dengan selimut pink kesayangan Firli.

Tanpa sengaja Tante Rima menemukan buku harian Firli di bawah bantal. Pelan pelan dibacanya buku harian itu. Kadang ia tersenyum, kadang ia terlihat serius bahkan sedih. Kata kata yang tertuang di buku harian itu tidak seperti kata kata yang ditulis oleh anak perempuan berusia 9 tahun. Begitu manis, indah dan menyentuh.

“Ah sayang….siapa bilang kamu tidak punya bakat?” Tante Rima menghela nafas sambil membelai Firli yang terlelap. Ia menutup buku harian itu dan berjalan keluar kamar menemui Mama dan Papa.

“Tante lihat Buku harianku?” Tanya Firli pada Tante Rima yang sedang sarapan bersama Mama dan Papa.

“Ada tuh sama Tantemu..”jawab Papa sambil senyum senyum.

Firli duduk di sebelah Tante Rima dan menatapnya, “Huuuh! Tante baca ya?”

“Waah, semalam tante ketemu buku yang isinya indaah sekali…..karangan anak berusia 9 tahun!!”” kata Tante Rima ikut ikutan senyum senyum sambil mengerling nakal pada keponakannya,”kata katanya indah…daya imajinasinya bagus….eh tau nggak sayang, ternyata kamu itu bakat lho menulis…!”

Firli mengerutkan dahinya bingung,”Setiap hari juga aku menulis!”

“Bukan menulis biasa,….Tante lihat Firli mampu menghasilkan rangkaian kata kata yang bisa bikin pembaca terbawa. Begitu indah dan teratur. Itu bagus! Tante yakin, kalau kamu ikut lomba mengarang pasti kamu menang!”

“Kata Mama juga apa kan Fir…. Setiap orang kan di beri Allah kelebihan dalam dirinya.Bakat adalah sebuah kelebihan. Sepertinya bakatmu adalah menulis. Dengan bakat seperti ini kamu bisa jadi pengarang , bisa ikut lomba lomba mengarang. Sama seperti Sofi dan Anto. Kamu juga bisa berprestasi seperti mereka, dengan bakat yang ada padamu….” Kata Mama lembut.

“Oya??! Betul Tante? Aku bisa jadi pengarang kayak Tante?”

Tante Rima mengangguk, “Tentu! Dan tante yakin!…Oya bulan depan ada lomba mengarang yang diselenggarakan penerbit buku buku tante. Kamu ikut ya..?”

Firli merasa terbang melayang. Khayalannya membumbung tinggi. Hatinya sangat gembira. Terimakasih Allah! Doaku telah Kau Jawab!

Kata kata indah mengalir dari goresan penaku di kertas. Mengalir indah seperti aliran sungai. Musik dapat memanjakan telinga. Tulisanku memanjakan mata tapi juga hati yang membaca…..Anugrah Allah Swt yang begitu indah…
(Buat Firlita…..)

Untuk kalian yang ingin membaca lebih banyak lagi cerita atau cerpen bobo, kalian bisa membaca kumpulan cerita bobo online di kidnesia.com.

Cerpen Bobo: Nenek Jingga

Nenek Jingga adalah tetangga baru yang menempati rumah di depan rumah Asti. Wajahnya sudah sangat keriput, dengan mata yang menyeramkan seperti nenek sihir di film film horor.
Asti sering bergidik melihatnya. Setiap kali bertemu di depan rumah Asti langsung berlari kencang menghindar.

“Aku takut Bun!” keluhnya pada Bunda yang menegur sikapnya, “Nenek itu seram sekali wajahnya..”

“Bukan seram,Asti..itu karena nenek sudah tua jadi wajahnya berkerut!”kata Bunda

Tapi tetap saja Asti takut berdekatan dengan Nenek Jingga. Kadang Nenek Jingga memanggilnya masuk ketika Asti melongok longok dipagar berharap menemukan keanehan dirumah Nenek itu.Ketika Nenek Jingga keluar, Asti lari masuk ke dalam.

Malamnya ia suka bermimpi Nenek Jingga datang dengan giginya yang runcing dan topi kerucut ala nenek sihir.Asti menjerit terbangun.

“Kenapa Asti?? Mimpi buruk?” Tanya Ayah yang ikut terkejut.

“Asti mimpi Nenek Jingga datang Yah…” sungutnya. Bunda dan Ayah tertawa mendengarnya.
“Ih sudah kelas tiga kok masih penakut. Nenek Jingga kan baik, di sering kirim kue Sus kesukaanmu tuh!”

Asti bergidik. Di dalam pikirannya sekarang Nenek Jingga sedang membersihkan sapu terbangnya untuk kemudian berkeliling menculik anak anak perempuan seusianya.Hiiiihhh!!…
Pulang sekolah Asti menemukan rumahnya dalam keadaan kosong dan terkunci. Kemana bunda?

“Cucu,…” sapaan serak itu mengejutkan Asti. Nenek Jingga sudah berdiri di belakangnya, menyeringai dengan mata menyipit.

“Bundamu tapi titip pesan supaya kamu kerumah Nenek dulu karena Bunda harus ke rumah sakit, Bude mu sakit keras…”Nenek Jingga mengulurkan tangannya mengajak Asti ke rumahnya.

Duuuh! Bunda kenapa nitipin aku ke Nenek sihir sih!! Gerutunya. Bulu kuduknya berdiri.

Sementara hari mendung dan sebentar lagi kelihatannya akan turun hujan lebat.

Asti menurut, mau tidak mau. Ia memberanikan diri mengikuti Nenek Jingga.

Asti duduk di teras, dan benar saja…hujan mulai turun disertai petir. Asti melongok longokkan kepalanya ke sekitar. Takut menemukan sapu terbang milik Nenek Jingga.

Plarrr!!! Tiba-tiba suara halilintar terdengar menyambar. Asti menjerit naik ke atas kursi dan berjongkok menekap tubuhnya.

Nenek Jingga terkekeh melihat kelakuannya. Ia keluar menyuguhkan Kue Sus dan teh hangat.
“Takut ya…?” katanya masih terkekeh,”Ayo minum teh ini supaya tubuhmu hangat,Cu…dan ini kue sus buatan Nenek, kata Bundamu kamu sangat suka….”

Asti mendekat perlahan. Perutnya memang sedikit lapar karena belum makan siang.

“Suara halilintar itu keras sekali…”gumamnya.

Nenek Jingga terkekeh lagi, kulitnya yang keriput makin terlihat berkerut kerut.

“Cucu tau apa penyebab Halilintar?”

Karena sihirmu,…Abrakadabraaaaa!!! Asti masih berkhayal sebelum mengeleng ragu.

“Halilintar itu adalah percikan listrik.Penyebabnya adalah loncatan listrik yang amat besar dari awan ke awan ,dan juga dari awan ke bumi….”terang Nenek Jingga.

Asti mendengarkannya seksama.

“Nanti kalau kamu sudah sekolah menengah kamu akan belajar adanya kutub negatif dan kutub positif. Nah , Halilintar itu terjadi karena perbedaan kutub yang besar antara awan ke awan atau awan ke bumi, karena perbedaan yang terlalu besar itu maka terjadi lah pelepasan listrik dan menimbulkan cahaya raksasa..”

Asti memandang Nenek Jingga takjub. Ternyata nenek sihir ini sangat pintar. Sedikit demi sedikit Asti berani bertanya pada Nenek Jingga apa yang ingin di ketahuinya.

“Itu yang dinamakan petir?”

Nenek mengangguk,”karena petir berbahaya, makan hampir setiap bangunan tinggi punya penangkal petir di atapnya.Bentuknya seperti logam yang di letakkan di atas gedung…”

Nenek menuangkan teh lagi pada gelas Asti yang tandas.

Di luar masih terlihat petir menyambar dan hujan yang cukup lebat.

“Hebat ya yang punya ide membuat penangkal petir itu…” gumam Asti.

“Iya. Dia adalah seorang ilmuwan bernama Benjamin Franklin….”

Asti jadi benar benar tertarik dengan cerita Nenek Jingga,”Nenek kok banyak tahu sih….”

Nenek Jingga terkekeh lagi,” Nenek dulu adalah Guru Sekolah Dasar….dan Nenek senang membaca!”

Asti tercengang. “Guru?”

“Iya, tapi Nenek sudah lama pensiun…sekarang Nenek sering mengisi waktu untuk mendongeng dan bercerita tentang Ilmu pengetahuan di sekolah sekolah…” terang Nenek Jingga.

Perlahan ketakutan Asti berubah menjadi kekaguman. Di usia Nenek Jingga yang setua ini, beliau masih kuat mengerjakan semua sendiri dan bahkan masih kuat berkeliling sekolah sekolah untuk bercerita.

Semenjak saat itu Asti jadi sering bertandang ke rumah Nenek Jingga. Ternyata dari Nenek yang dulu ditakutinya ini Asti bisa banyak menimba ilmu.

Untuk kalian yang ingin membaca lebih banyak lagi cerita atau cerpen bobo, kalian bisa membaca kumpulan cerita bobo online di kidnesia.com.

Cerpen Bobo: TELEDOR

Semua siswa terdiam menatap wajah Eliya yang kusut.Kedua matanya basah. Badannya yang gemuk terguncang-guncang menahan tangis.BuWati dan Pak Burham yang berdiri di sampingnya berusaha menenangkannya. Namun Eliya masih terus menangis.

“Anak-anak, mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa Eliya ?” tanya Pak Burham tenang. “ Dia menangis karena uang sekolahnya hilang !” lanjut Pak Burham.

“Uang sekolah Eliya hilang ?” teriak seisi kelas hampir bersama-sama. Seketika kelas pun menjadi gaduh.

“Sudahlah! Kalian diam dulu!” potong Pak Burham. “Sekarang Bapak minta kalian bersikap jujur. Apabila diantara kalian ada yang mengambil uang Eliya tolong dikembalikan.”

Semua siswa pun diam lagi seperti patung.

“Kalian jangan takut. Apabila kalian mengaku,Bu Wati dan Bapak Burhan akan merahasiakan nama kalian,” janji Bu Wati.

“Tetapi bila tidak ada yang mengaku terpaksa Bapak akan mendatangkan paranormal ke kelas ini,” lanjut Pak Burhan.

“Paranormal?” teriak seisi kelas bersamaan. Dan kelas pun kembali ramai.

“Kalian tidak usah takut!” seru Pak Burham. “Yang akan Bapak bawa ke kelas ini bukan orangnya tetapi manteranya yang sudah dirapalkan ke dalam air putih.”

“Oh begitu…!” guman para siswa lega.

“Dalam satu jam nanti kalian akan diajak bicara satu persatu oleh Bu Wati. Kalau tidak ada yang mengaku terpaksa Bapak menggunakan cara yang kedua.” ancam Pak Burham

* * *

Cara pertama ternyata tidak membawa hasil. Para siswa semakin gelisah.

“Menurut kamu siapa, Mir ?” pancing Ratih.

“Siapa ,ya?” pikir Mira.

“Biasanya di saat-saat seperti ini bakat detektifmu muncul,” gurau Ratih.

“Aku mencurigai seseorang, Rat !Tetapi aku tidak percaya kalau dia yang melakukan!”

“Menduga-duga kan boleh?Ayo , menurutmu siapa?” desak Ratih.

“Aku mencurigai Kristian tetapi aku tidak percaya kalau dia pelakunya!” bisik Mira

Ratih manggut-manggut,”Ternyata kita sepaham. Aku juga mencurigai Kristian!”

“Alasanmu apa ?” tanya Mira heran.

“Alasanku?Dia anak baru. Baru satu bulan dia duduk di kelas ini. Sebelum dia masuk kejadian seperti ini tidak pernah ada!” papar Ratih penuh semangat.”Dan setiap istirahat dia tidak mau keluar kelas! Tidak mau jajan. Di kelas hanya baca komik saja!”

“Tetapi itu bukan alasan untuk menuduh dia. Dia tidak mau jajan karena membawa bekal dari rumah. Dia pernah bercerita kepadaku katanya makanan di kantin ini kurang sehat. Dan dia membaca komik untuk refreshing karena dia memang hobi baca komik.” bela Mira

“ Saya tahu, tetapi bisa saja semua itu hanya kedok untuk menutupi kejahatannya!”

“Lalu untuk apa dia mengambil uang Eliya ? Dia anak orang kaya lho,Rat!” ujar Mira.

“Kalau masalah itu saya tidak tahu!” jawab Ratih sambil mengangkat bahunya.”Kalau alasanmu mencurigai Kristian apa?” gantian Ratih yang bertanya.

“ Alasanku?” jawab Mira bingung.

“Ya! Alasanmu mencurigai Kristian apa?” desak Ratih.

“Sama dengan alasanmu!” jawab Mira sambil nyengir.

“Payah kamu! Tidak ilmiah sama sekali!” gerutu Ratih kecewa.

“Sssstttttttt diam…!” perintah ketua kelas ketika mendengar langkah sepatu Pak Burham.

“Ternyata tidak ada yang mengaku. Lihatlah! Gelas ini sudah penuh dengan air yang bermantera. Mantera ini hanya akan bereaksi pada mulut orang yang berbohong. Kalau kalian jujur mantera ini tidak akan bereaksi dan tidak mempunyai efek samping,” papar Beliau serius.

“Pak Burham tidak usah melakukan itu. Sayalah yang mengambil uang Eliya!”

Seketika kelas menjadi gaduh. Seluruh mata menatap Kristian tidak percaya. Bu Wati dan Pak Burham tercengang. Tangis Eliya terhenti.

“Benarkan Mir, dugaanku!” bisik Ratih penuh kemenangan.

“Kristian ! kamu kok tega sama aku !” jerit Eliya.

“Sudahlah!Kalian tenang!” perintah Pak Burham.”Jadi kamu pelakunya,Kris ?”

“Maaf Pak Burham! Maaf Bu Wati! Maaf teman-teman! Sebenarnya bukan hanya uang Eliya saja yang saya ambil!” jawab Kristian tenang. “Lihat !Mobil Tamiya ini milik siapa?,” tanya Kristian sambil mengeluarkan mobil-mobilan kecil dari tasnya.

“Itu milikku!” seru Didin, “Ternyata kamu pencurinya!” teriak didin garang.

“Jangan menuduh, Din! Mobil ini aku temukan di laci mejamu, hari Kamis tanggal satu kemarin . Lihat di sini kutulis datanya! Dan anehnya kamu tidak pernah merasa kehilangan, kamu tidak pernah lapor Bu Wati atau Pak Burham karena kamu mampu membeli lagi,”

Wajah Didin tersipu malu “Maaf Pak! Saya tidak akan membawa mainan lagi ke sekolah”

“Ratih! Ini adalah kalkulatormu!” Kristian kembali merogoh tasnya dan mengeluarkan kalkulator digital. “Jangan menuduh saya pencuri karena kalkulator ini juga kutemukan di laci mejamu. Tepatnya Hari Senin setelah pelajaran matematika.Ternyata kamu selalu menggunakan kalkulator dalam mengerjakan soal matematika. Dan anehnya kamu juga tidak pernah merasa kehilangan.”

Wajah Ratih memerah. Dia tertunduk dan tidak berani lagi menatap ke depan.

“Maaf Bu Watik. Saya menemukan ini di bawah meja Ibu!” lanjut Kristian sambil menunjukkan wesel pos. “Disini tertulis honor menulis cerita anak sebesar seratus lima puluh ribu. Saya temukan tanggal sepuluh yang lalu.Dan ternyata Ibu juga tidak pernah merasa kehilangan uang sebesar ini.”

Gantian wajah Bu Watik yang memerah.

“Lalu uang sekolah Eliya bagaimana?” desak Pak Burham tidak sabar lagi.

“Uang Eliya di dalam komik ini! jawab Kristian sambil menunjukkan komik kesayangannya. “Kemarin Eliya pinjam komik saya dan pagi tadi baru dikembalikan. Jam istirahat tadi saya iseng-iseng membaca komik dan menemukan uang ini. Mungkin Eliya tergesa-gesa sehingga salah menyelipkan uang sekolah ini! Betulkan El?”

“Maaf, Kris! Aku telah menuduhmu yang bukan-bukan. Tadi pagi aku memang tergesa-gesa. Aku teledor sekali!” jawab Eliya sambil mengulurkan tangannya.

“Aku juga minta maaf . Aku juga teledor” sesal Didin sungguh-sungguh.

“Ibu minta maaf ya, Kris.Ibu akan lebih hati-hati lagi,” janji Bu Wati.

Kristian tersenyum menatap teman-temannya. Dalam hatinya ada rasa haru dan bangga berbaur jadi satu.

Untuk kalian yang ingin membaca lebih banyak lagi cerita atau cerpen bobo, kalian bisa membaca kumpulan cerita bobo online di kidnesia.com.

Cerpen Bobo: Rahasia Sekeping Uang Logam

Ini untuk pertama kalinya aku berulang tahun di negeri orang. Tidak ada teman, saudara, atau tetangga sebelah rumah yang bisa kuajak merayakannya. Ah, tapi tak apa-apa. Aku masih punya Mama, Papa, dan ...

“Alia!” panggil Usagi, teman sebangkuku yang selalu menemaniku selama aku tinggal di jepang, “Hari ini kamu ulang tahun, kan? Selamat, ya! Semoga panjang umur,” Usagi mengulurkan tangan.

“Terima kasih,” aku membalas uluran tangannya.

Usagi merapatkan mantel putihnya, begitu juga aku. Musim salju mulai turun. Semua murid memakai mantel tebal. Aku dan Usagi menuju halte bus.

“Kok, kamu sepertinya tidak bahagia?” tanya Usagi lagi.

Aku mengedikkan bahu. Aku memang agak sedih karena tidak ada yang merayakan ulang tahunku. Tiba-tiba mataku tertuju pada kilauan benda kecil di depanku. Segera kuambil. Owww ... sekeping uang logam.

“Uang logam tahun berapa?” Usagi merebut logam itu dari tanganku. “Hebat!” teriaknya tiba-tiba, cukup mengagetkan. “Li, ini benar-benar hari keberuntungan buat kamu!” lanjutnya.

“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

“Menurut orang jepang, kalau kita menemukan uang logam pada hari ulang tahun, dan tahun pembuatan uang logam tersebut sesuai dengan tahun kelahiran kita, maka tiga permintaan kita akan dikabulkan!” jelas Usagi panjang lebar.

Aku tersenyum, “Aku tidak percaya,” kataku.

“Kamu harus percaya. Tuhan sedang berbaik hati pada kamu!” Usagi mengembalikan uang logam itu. Kulihat tahun pembuatannya sama dengan tahun kelahiranku.

“Ayo Alia, sekarang kamu harus minta sesuatu!” Usagi terus memaksa. aku tidak percaya, tapi tidak apa-apalah.

“Kalau begitu aku akan minta kepada Tuhan, supaya hari ini ada matahari bersinar!” kataku akhirnya. Beberapa saat kemudian permintaanku itu benar-benar dikabulkan Tuhan.

“Lihat Alia!” teriakan Usagi, “Lihat! Matahri muncul di balik awan!”

Ah, aku hampir-hampir tidak percaya. Matahari muncul di langit sana, padahal sekarang musim salju!

“Betul, kan, apa yang kubilang. Tuhan sedang berbaik hati sama kamu. Sekarang, coba ajukan permintaan kedua! Ayo, Alia!” kata Usagi.

“Aku mau hadiah bunga sakura!” aku mengucapkan permintaan kedua.

Diiin! Diiin! Bus yang aku tunggu datang.

“Aku pulang dulu, ya! Nanti aku telepon!” kataku sebelum masuk bus. Usagi mengangguk, lalu melambaikan tangan.

Di dlam bus aku tersenyum sendiri. Apa benar yang dikatakan Usagi? Ah, aku yakin itu hanya kebetulan saja. mana mungkin uang logam bisa membawa keberuntungan? Aku tak yakin permintaan kedua terkabul.

“Stop!” teriakku sampai di depan rumahku.

“Cepat masuk Alia!” kata Mama begitu pintu dibuka. Sepertinya sebentar lagi akan ada badai salju.

Aku mencium tangan Mama lalu masuk ke kamar. Sekali lagi aku terkejut. Di kamarku sudah ada beberapa tangkai bunga sakura.

“Itu bunga dari Tante Irma. Tadi dia ke sini,” Mama menjelaskan.

Ya Tuhan ... Usagi benar! Aku menuju telepon dan memijit nomor telepon Usagi. Kebetulan ia sudah sampai di rumah. Aku ceritakan permintaan keduaku itu.

“Sekarang apa permintaan terakhir kamu?” tanya Usagi.

Aku garuk-garuk kepala, “Aku ... aku tidak tahu.”

“Begini saja, bagaimana kalau kamu minta pada tuhan agar hasil ulanganmu selalu yang terbaik!” usul Usagi beberapa saat kemudian.

“Ah, kamu ada-ada saja!” tolakku.

“Ini kesempatan baik Alia!”

“Tidak! Itu nanti akan membuatku malas belajar!”

“Tapi ...”

Sekitar seperempat jam aku berdebat dengan Usagi. Hingga akhirnya aku dan Usagi bertengkar. Usagi membanting telepon. Aku juga membanting telepon.

“Ada apa sih?” tanya Mama melihat kelakuanku. “Tidak baik membanting-banting telepon!”

“Habis Usagi duluan,” gerutuku.

“Memangnya ada apa?” tanya Mama lagi.

Aku menarik napas sejenak, lantas menceritakan semuanya. Tentang uang logam itu, tentang permintaan pertama dan keduaku yang dikabulkan, dan tentang permintaan terakhir yang membuatku membanting telepon.

“Kamu benar! Meskipun Tuhan sedang berbaik hati padamu, tapi sebaiknya jangan menuruti permintaan Usagi itu,” Mama mendukungku.

“Lalu aku minta apa?” tanyaku sebelum Mama meninggalkanku.

Mama menghentikan langkahnya, “Bagaimana kalau kamu minta sahabat saja? iya, seorang sahabat sejati!” katanya.

Sahabat? Ya! Kenapa tidak? Akhirnya aku minta pada Tuhan supaya diberi seorang sahabat sejati. Aku lalu masuk kamar, mengganti pakaian, lalu menuju meja makan. Aku barus saja menyiapkan piring ketika bel berbunyi. Kudengar Mama membuka pintu.

“Alia! Coba kamu lihat, siapa yang datang,” kata Mama.

Aku menoleh. Usagi?!

Usagi tersenyum, mendekati tempat dudukku dan mengulurkan tangan, “Maafkan aku, ya! Aku ...”

Aku menggeleng-geleng. Aku tidak mau mendengar kelanjutkan perkataan Usagi. Aku yakin Usagi menyesali perbuatannya karena dia seorang sahabat sejati yang dikirimkan Tuhan untukku. Seperti permintaan terakhirku!

Untuk kalian yang ingin membaca lebih banyak lagi cerita atau cerpen bobo, kalian bisa membaca kumpulan cerita bobo online di kidnesia.com.